3 Kelompok Konsumen Board Game di Indonesia perlu dipahami oleh setiap desainer dan penerbit board game.

Bagi para penerbit board game, sustainability atau keberlanjutan usaha sangatlah penting. Penerbit harus menghidupi disainer, ilustrator, bahkan puluhan pekerja percetakan. Maka dari itu pemahaman terhadap kelompok konsumen board game ini menjadi sangat penting.

SURABAYA BOARD GAME MARKET (SUBOGAMA) 2016

Setiap kelompok konsumen board game di Indonesia ini memiliki karakteristik dan cara pendekatan promosi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

1. COLD CUSTOMER

Kelompok konsumen ini dalam industri board game Indonesia sangatlah besar jumlahnya. Mereka adalah:

  1. Belum memiliki “Pemahaman” tentang board game. Mereka masih bertanya-tanya apa itu board game dan sama sekali belum memahami manfaatnya jika membeli board game.
  2. Belum memiliki “Kepercayaan” terhadap board game. Mereka sudah tahu board game tetapi masih tidak yakin akan potensinya.
  3. Belum merasa memiliki “Kebutuhan” terhadap board game. Mereka bisa jadi sudah paham dan percaya, tetapi tidak merasa ada kebutuhan untuk memiliki board game.
  4. Genre Board Game pada kelompok ini cenderung ke Gateaway Board game: Party Game, Family Game, Children Game, dan Education Game.

Laksmi Puspitowardhani, Pendidik sekaligus penggemar board game

Pendekatan promosi pada kelompok Cold Customer ini adalah:

  1. Membuat materi-materi edukasi pengenalan board game baik secara online maupun offline. Secara online bisa dalam bentuk blog dan video yang melibatkan pihak-pihak “validator” tentang board game. Misalkan dengan mengajak “guru dan dosen”, tokoh dan pegiat pendidikan keluarga atau perwakilan “pemerintah” seperti pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Kegiatan edukasi board game secara offline dengan Seminar jangan langsung “Play Day” saja atau kombinasi seminar dan play day. Seminar memberikan efek “mudah” bagi para “cold customer” board game. Sebab bermain bagi sebagian orang masih dianggap merepotkan dan rumit.
  3. Kebutuhan dapat diciptakan dengan mengingatkan ada masalah jika tidak bermain atau memiliki “board game”. Misalkan dengan menghubungkan masalah keharmonisan dalam keluarga, pertemanan, dll. akibat penggunaan gadget yang berlebihan. Sehingga board game menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah penggunaan gadget yang berlebihan. Contoh lain adalah board game sebagai solusi pembelajaran di sekolah atau kampus hingga media untuk training karyawan di perusahaan.
  4. Kepercayaan konsumen juga bisa dibangun dengan label “juara” atau “testimonial” dari para konsumen awal produk board game.
  5. Ikut dalam kegiatan pameran board game atau pameran edukasi juga memberikan efek positif ke “cold customer” misal ikut event SUBOGAMA (Surabaya Board Game Market).
  6. Siapkan web atau fan page lalu ajaklah mereka untuk menjadi follower dan pelanggan newsletter informasi board game.

2. WARM CUSTOMER

Kelompok konsumen ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Mereka sudah pernah membaca artikel atau video dan konten digital lainnya tentang manfaat board game. Namun mereka tidak tahu harus memulai dari mana mencoba atau membeli board game.
  2. Mereka sudah paham tentang board game bahkan telah mengikuti kegiatan bermain di Board Game library / cafe beberapa kali.
  3. Beberapa isu utama terkait konsumen jenis ini adalah isu “Manfaat Vs. Harga” terhadap board game. Bagi mereka uang yang dikeluarkan untuk membeli board game lebih besar nilainya dari Kebutuhan atau manfaat memiliki board game.

Para pengunjung TABLETOYS Boardgame Libarary

Pendekatan promosi pada kelompok Warm Customer ini diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Selalu undang mereka secara rutin melalui newsletter, whatsapp, dll untuk ikut dalam kegiatan seminar, playday, lomba, dll.
  2. Penerbit board game harus memberikan “insentif” bagi konsumen jenis ini untuk mengurangi bahkan menghilangkan “mental block” dalam keputusan membeli board game. Berbagai cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan diskon atau potongan harga, event promo sale, dan giveaway.
  3. Free Demo atau Trial board game dalam bentuk PnP atau Print and Play board game. Sehingga menimbulkan rasa “memiliki” dan “mengoleksi” board game. Hal ini akan lebih memudahkan untuk keputusan membeli.
  4. Review board game dalam bentuk artikel atau video oleh sosok yang dipercaya oleh konsumen dan bukan pelaku langsung dalam industri board game, sehingga muncul penilaian netral dan independen dari konsumen board game.

3. Hot Customer

Kelompok konsumen ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Mereka adalah para konsumen yang sudah melalui fase Cold > Warm dan menjadi Hot. Mereka memiliki potensi menjadi Warm ke Cold jika tidak di-maintain dengan baik.
  2. Konsumen jenis ini sudah melakukan repeat order atau pembelian berulang board game.  Bagi mereka board game sudah masuk ke fase “kebutuhan” dan menjadi bagian dari “kebiasaan” yang harus dilakukan secara rutin.

Para Konsumen Board Game di BEKRAF Festival Surabaya 2018

Pendekatan yang diberikan pada kelompok ini lebih ke arah menjaga loyalitas:

  1. Gunakan strategi “loyalty” program dengan membangun database konsumen. Lakukan secara rutin diskon atau promosi kepada mereka untuk tetap menjaga “suhu” dari konsumen board game tetap “Hot”
  2. Apresiasi kegiatan bermain mereka di media sosial yang Anda miliki, sekadar sapa dan ucap terima kasih sudah memberikan menimbulkan hubungan kedekatan yang tinggi antara publisher, desainer, dan konsumen.

KESIMPULAN

3 Kelompok Konsumen Board Game di Indonesia ini memang cukup unik, dan saat ini PR terbesar bagi para penerbit dan desainer board game adalah fokus pada kelompok COLD CUSTOMER. Berbeda dengan kelompok konsumen industri kreatif lainnya seperti komik, animasi, video game, dll. Konsumen board game di Indonesia belum terlalu teredukasi tentang board game. Janganlah tergoda di awal untuk membangun board game dengan tema berat untuk di kelompok COLD CUSTOMER.

Jika ada pertanyaan atau diskusi bisa hubungi saya di adhi@mechanimotion.com

 

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com