Animasi Sukses Berasal dari Cerita yang Tervalidasi?

Mengapa Walt Disney lebih suka mengangkat animasi layar lebar dari cerita rakyat dan dongeng yang sudah terkenal?
Jawabannya sederhana, karena ceritanya sudah dikenal masyarakat luas. Disney telah mengangkat cerita rakyat dan dongeng mulai dari Snow White and the Seven Dwarfs (1938) sampai dengan Frozen (2013). Peran penulis cerita seperti Hans Christian Andersen cukup besar sebagai seorang storyteller moderen dalam menyebarluaskan dongeng ke masyarakat internasional.

Artinya dari kaca mata bisnis: cerita rakyat atau dongeng sudah teruji “pasar”, kalo ceritanya nggak bagus tentu tidak mungkin bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun. Bagi Investor, resiko investasi sudah diminimalisir karena cerita telah “tervalidasi”.

Lalu apakah bikin animasi dengan cerita sendiri tidak akan berhasil?
Pixar cenderung mengangkat cerita baru dalam animasinya, mulai dari Toy Story hingga Monster University. Investor cukup paham akan resiko mengangkat cerita baru, namun pihak studio dapat “meminimalisir” resiko investasi dari aspek lain, seperti cerita yang lebih “segar”, desain karakter, visualisasi, musik, dll. Dan nama besar “pixar” telah menjadi jaminan bagi investor untuk produk animasi yang berhasil.

Studio animasi Indonesia perlu mengangkat cerita sendiri atau berdasarkan cerita yang tervalidasi?
Setiap pilihan tentu memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri. Namun yang perlu diperhatikan bagi produser adalah strategi bisnis yang harus dirancang sejak awal hingga produk ter-delivery ke konsumen. Ingat! Kesuksesan animasi BUKAN saat produk selesai (Pasca Produksi), tetapi bagaimana produk ini mencapai angka target penjualan dari tiket hingga merchandise.

A. Animasi dengan Cerita Sendiri (Pixar Way)
Keunggulan:

  1. Naskah lebih “bebas” tidak terikat “pakem”.
  2. Tidak perlu perjanjian terkait “HAKI” dengan pemilik cerita.
  3. Tidak perlu “royalti” dengan pemilik cerita (terkait point 2).

Kelemahan:

  1. Resiko investasi cukup tinggi, karena cerita belum dikenal masyarakat.
  2. Butuh anggaran riset pasar untuk menekan kegagalan investasi.

B. Animasi dengan Cerita Rakyat / Dongeng (Disney Way)
Keunggulan:

  1. Resiko investasi lebih kecil karena masyarakat sudah “cukup lama” mengenal cerita yang diangkat menjadi animasi.
  2. Perilaku penonton adalah “rasa ingin tahu” akan visualisasi cerita ke animasi (live action) cukup tinggi.

Kelemahan:

  1. Perjanjian “HAKI” dengan sang pemilik cerita.
  2. Kewajiban membayar “Royalti” kepada pemilik cerita.
  3. Ada pakem yang harus diperhatikan dalam membuat animasi.

Jika ingin “BERAKSELERASI” maka dibutuhkan “KOLABORASI” antara “Storyteller” dengan Studio Animasi.

Akselerasi atau percepatan industri animasi di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun terakhir semenjak hadirnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kominfo dan hadirnya komunitas-komunitas penggiat animasi.

Akselerasi ini akan efektif jika dilakukan kolaborasi antara para storyteller dengan studio animasi. Siapakah storyteller ini:

  1. Cerita rakyat / dongeng (Kalo ini harus ditelusuri dulu terkait masalah HAKI, karena storytellernya seringkali tidak jelas identitasnya)
  2. Penulis cerita seperti: penulis novel, cerpen, cerbung, dll.
  3. Komikus

Storyteller yang dipilih seperti apa?

  1. Untuk cerita rakyat atau dongeng yang telah berumur puluhan tahun dan tetap “eksis” hingga saat ini layak untuk diangkat dalam bentuk animasi.
  2. Untuk novel/cerpen/cerbung dll. pilihlah yang telah terjual sukses di pasaran atau terekspos secara nasional.
  3. Untuk komik pilihlah komik yang terjual cukup besar dan memiliki fan base yang cukup kuat.

Kolaborasi antara KOMIKUS dengan STUDIO ANIMASI jauh lebih menguntungkan di Indonesia?

  1. Komik yang sudah rilis di toko buku tentu menjadi “promosi” efektif di pasaran. Kecendrungan pembaca komik adalah ingin melihat karakter idola mereka “hidup” dalam animasi. Hal ini lah yang menjadi model bisnis Jepang, rata-rata anime adalah berasal dari manga atau komik Jepang yang “SUKSES”, misalnya: Attack on Titan, Dragon Ball, One Piece, Bleach dll.
  2. Komik adalah “storyboard” yang belum distandarisasi ke format ukuran 4:3 atau 16:9. Setiap panel komik adalah “storyboard” yang memiliki kekuatan bercerita. Beban kerja ini sudah terkurangi bagi pihak studio animasi dalam membuat storyboard yang menarik.
  3. Saat ini Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif sudah membuat event-event kreatif di PPKI (Pekan Produk Kreatif Indonesia) di mana di dalamnya ada kompetisi komik, animasi, dll. Sekarang tinggal dirancang kolaborasi antara para komikus dengan studio animasi.
  4. HAKI? Saya rasa berbagi “rejeki” jauh lebih baik dibanding menikmati rejeki sendiri-sendiri 🙂

Animasi Sukses garudayana vienetta wanara naradja

Sudah Adakah KOLABORASI ini?
Dari pengamatan saya yang terbatas, saat ini sudah ada yang melakukannya dan ada beberapa yang masih pilot project. Diantaranya adalah:

  • Vienetta (Alfi Zachkyelle). Kisah Vienetta ini hadir lebih dahulu dari komik dan kemudian diangkat menjadi serial animasi di TV7. Saat ini sedang dikerjakan lanjutan serial animasinya dalam bentuk “pilot” dengan judul  Vienetta: Negeri Terakhir. https://www.facebook.com/negeriterakhir

  • Garudayana (Is Yuniarto). Kisah Garudayana adalah mengangkat sisi lain kisah wayang Gatotkaca agar lebih bisa dinikmati kembali oleh generasi muda saat ini. Is Yuniarto telah melakukan kolaborasi dengan Republik Animasi (SMKN 4 Malang) dalam membuat teaser animasi Garudayana. Silahkan simak teasernya di: http://www.youtube.com/watch?v=mHIbdG1P0jA

  • The Adventures of Wanara (A.R. Wirawan & Bonnie S.). Kisah petualangan wanara ini mengembangkan kisah 1000 tahun setelah Ramayana. Saat ini Wanara telah membuat 4 episode “pilot” serial animasi yang telah ditayangkan di USEETV dan di Youtube. Episode 1: http://www.youtube.com/watch?v=_XgxQeU_xlI

Nah, sekarang pilihan ada ditangan para pelaku jika ingin menghasilkan animasi sukses ^_^ Ingat keberhasilan animasi bukan saat produksi telah usai, tetapi saat animasi ini memiliki “impact” ke masyarakat.

ARTIKEL TERKAIT: Anggaran Serial Animasi: http://adhicipta.com/contoh-anggaran-produksi-serial-animasi-tv/

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com