Biaya Produksi Pembuatan Board Games bagi desainer dan publisher sangatlah penting untuk dipahami sejak awal.

Sebelum membuat boardgame yang saya lakukan bersama tim adalah melakukan diskusi mendalam tentang hasil riset pasar, potensi penjualan dan biaya produksi. Waroong Wars lahir bukan dari sekadar ambisi atau ego dari tim desainernya tetapi bagaimana memastikan produk board game yang dibuat akan dimainkan dengan suka cita dan berdampak positif terhadap penjualan.

waroong wars terbaru 2018 essen jerman german indonesia permainan kartu board games biaya produksi kartu boardgames cardgames kuliner surabaya

Dengan mengetahui “keterbatasan” sejak awal maka tim akan jauh lebih bisa mengendalikan rancangan board game yang akan dibuat. Ingat bahwa membuat produk itu seperti “anak”, bagi saya siapa saja bisa bikin produk, tetapi tidak semua orang mampu memikirkan dengan baik keberlanjutan produk.

Pendekatan yang saya pilih bersama tim saat membuat Waroong Wars adalah membatasi terlebih dahulu anggaran biaya produksi atau dikenal dengan istilah Target Costing. Meskipun saat itu pihak Kompas tidak menentukan aturan ini, tetapi saya paham betul bagaimana susahnya menjadi publisher. Jadi jika Anda tidak peduli dengan publisher, maka jangan lanjutkan membaca artikel ini. Tetapi jika Anda memang ingin memikirkan nasib banyak pihak dalam industri ini, mari kita lanjutkan.

Pertimbangan memilih Target Costing adalah:

  1. Pasar Indonesia masih di tingkat “growth” dimana interest terhadap board game masih rendah. Indikatornya adalah dari kontribusi sales kategori board game di 2 online store seperti tokopedia dan bukalapak.
  2. Kondisi pasar yang masih growth ini pasarnya masih memandang board game sebagai media hiburan, belum menjadi hobi “kebutuhan” yang besar pasarnya seperti action figure, dll.
  3. Daya beli terbatas (berdasarkan survei internal gramedia tahun 2015 bahwa rata-rata belanja produk di Gramedia adalah dikisaran Rp200-R300 ribu per bulan.
  4. Risiko yang cukup tinggi, disebabkan pasar board game masih kecil dan daya beli yang masih terbatas maka saat ini tidak cukup bijak jiak menjual produk board game di atas Rp300rb. Silahkan cek data ini ke beberapa publisher lokal yang telah merilis board game dengan harga jual di atas harga tersebut.

Cara menggunakan metode Target Costing adalah:

Target Costing = Harga Jual – Margin Laba Bersih

Sebagai contoh, kita ingin harga jual board game kita adalah Rp 175 ribu maka tentukan Margin Laba yang ingin diperoleh, bisa 10% atau lebih. Misalkan laba yang ingin diraih adalah Rp 25 ribu per unit maka Target Costing-nya adalah Rp 150 ribu/unit.

Anggaran biaya Rp 150 rb per unit ini yang menjadi control bagi publisher dan desainer untuk menentukan sejauh mana jumlah komponen, biaya promosi dll.

Komponen biaya dibagi menjadi 2 yaitu biaya langsung (biaya yang secara langsung membentuk produk, misal: biaya cetak, biaya komponen, biaya pajak, dll.) dan biaya tidak langsung (biaya yang tidak bisa secara langsung dibebankan ke produk, misal: biaya promosi, biaya ilustrasi, dll.).

Contoh biaya langsung dalam board game umumnya terdiri dari:

  1. Biaya cetak paper / board (box, kartu, board, rulebook, token board dll.): biaya cetak besarnya dipengaruhi jumlah cetak. Semakin banyak biaya semakin tinggi tapi jumlah outputnya cenderung makin banyak. Misalkan: cetak 1000 set nilainya adalah Rp 20 ribu per unit (Total Rp 20.000.000,00), tetapi ketika kita cetak 5000 set, biaya per unitnya bisa turun hingga Rp 12 ribu per unit (Total Rp 60.000.000,00). Hal ini disebabkan skala ekonomi produksinya makin besar sehingga percetakan mampu menekan biaya per unit.
  2. Biaya komponen non paper/non board (meeples, standing character, miniatures, dll.): biaya komponen ini adalah biaya produksi di luar komponen cetak kertas atau board. Di mana harus diperoleh dari pihak di luar percetakan. Biayanya bervariasi dimana mirip seperti cetak paper atau board, semakin banyak maka semakin murah per unit.
  3. Biaya pengemasan: dapat berupa wrap-up untuk box agar tidak mudah rusak akibat air, Kardus untuk pengiriman, bubble wrap, dll.
  4. Biaya royalti: sebagai publisher berkewajiban membayar royalti kepada desainer, kecuali jika ada perjanjian beli putus antara desainer dengan publisher.
  5. Biaya pajak: ketentuan pemerintah terkait PPN (Pajak Pertambahan Nilai) atau VAT (Value Added Tax) adalah 10% per produk. Jangan lupa masukkan ini kedalam biaya dan bebankan ke konsumen.

Contoh biaya tidak langsung umumnya terdiri dari:

  1. Biaya pemasaran: jangan lupa bahwa tidak ada produk yang sukses terjual tanpa pemasaran. Besarnya biaya pemasaran ini bergantung dari jumlah cetak dan target perputaran inventori yang ingin diraih. Semakin tinggi target penjualan maka biaya pemasaran ikut meningkat. Biaya pemasaran bisa untuk online marketing (FB Ads, Google Ads, dll.) dan juga offline (conventional Marketing) seperti ikut pameran (biaya sewa booth, biaya salesman, biaya makan, biaya akomodasi, dll.).
  2. Biaya ilustrasi & layout: yaitu biaya untuk membuat tampilan board game menjadi lebih baik. Semakin banyak variasi komponen maka biayanya akan terus meningkat.
  3. Biaya pengiriman dari percetakan ke gudang. Jangan lupa hitung biaya kirim ini. Beberapa kasus untuk pengadaan komponen harus impor dari cina atau antar kota di dalam negeri.

Untuk biaya langsung cukup mudah mengalokasikan ke tiap produk, cukup dengan mentotal seluruh biaya lalu dibagi per unit. Sedangkan biaya tidak langsung ini yang cukup rumit. Apalagi jika biaya-biaya tersebut harus dialokasikan ke beberapa jenis produk yang penyerapan biayanya berbeda-beda.

Namun jika biaya tidak langsung dapat dihitung secara keseluruhan dan dibebankan ke 1 jenis produk maka:

Total Biaya / unit = (Biaya Langsung + Biaya Tidak Langsung)/Total Unit Produk

Kesimpulan:

Selain kualitas produk, biaya Produksi Pembuatan Board Games sangat menentukan kesuksesan produk karena berpengaruh pada harga jual. Publisher (dan desainer) harus memperhitungkan dengan matang produk mereka agar sukses dipasaran. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan target costing.

 

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com