Boardgame Indonesia Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri?

Beberapa waktu lalu saya bersama keluarga berkunjung ke TB Gramedia di Royal Plaza Surabaya. Seperti biasa anak-anak saya menuju ke rak-rak komik. Saat saya menemani mereka, yang saya perhatikan adalah dominasi tumpukan komik-komik luar terutama Jepang dan Korea Selatan dibanding lokal.

Namun, hal yang menggelitik saya adalah jika hal ini terjadi pada industri boardgame lokal yang masih tahap “embrio”. Mengapa saya sebut “embrio” karena saya hanya mengetahui 2 publisher lokal saja yaitu ManikMaya dan Canvas Ranger.

Kekhawatiran terbesar saya adalah jika suatu saat nanti para publisher “raksasa” Indonesia mulai “me-localize” boardgame dari luar negeri. Hal yang sama pada industri komik lebih dari 20 tahun silam. Di mana perlahan namun pasti saat itu komik-komik luar diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Dan saat ini para komikus muda harus berjuang keras untuk kembali bangkit. Diantaranya kumpulan komik Re:On, Si Juki, Beni & Mice, dll. mulai merebut kembali pecinta komik lokal.

Agar situasi yang sama tidak terulang kembali pada industri boardgame yang sedang tumbuh, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para desainer boardgame lokal.

  • Publisher lokal memiliki kebutuhan “konten” dalam jumlah besar. Itulah yang terjadi pada industri komik. Maka dari itu para desainer boardgame harus mempersiapkan konten yang berkualitas dan diikuti dengan kuantitas yang tinggi.
  • Desainer boardgame lokal mulai mengedukasi “konsumen” dengan membuat boardgame dengan segmentasi keluarga (Family Game) atau Party Game seperti “Game of Life”, Cluedo, Bang, dll. Tujuannya adalah untuk lebih mudah memperkenalkan boardgame pada pengguna awal atau awam.
  • Desainer boardgame lokal harus memperhatikan “cost of production” dalam setiap boardgame yang dibuat. Setiap komponen mulai dari dadu, token, kartu, board, hingga ukuran kemasan sangat menentukan biaya produksi. Dengan kondisi pasar lokal yang masih tumbuh, maka kepekaan terhadap harga masih cukup tinggi. Maka dari itu disarankan untuk merancang boardgame yang tidak terlalu mahal.
  • Desainer boardgame lokal harus berkolaborasi dengan komunitas dan pengelola cafe boardgame. Hal ini menjadi sangat penting karena boardgame adalah media bermain yang membutuhkan tempat dan sarana yang memudahkan untuk bermain serta berinteraksi. Dukungan distribusi dengan berkolaborasi melalui komunitas dan cafe boardgame akan menciptakan dukungan industri boardgame lokal yang kuat di masa depan.
  • Event boardgame di skala lokal dan nasional perlu diadakan secara berkala. Untuk awalnya hal ini bisa dilakukan dengan berkolaborasi dengan event yang sudah berlangsung rutin seperti: Hellofest, Pakoban, PopCon, ReCon, Game Developer Gathering, dll. Ajang tersebut adalah tempat berkumpulnya komunitas dan masyarakat luas untuk menikmati produk-produk kreatif lokal.

Aahhh…. mungkin kekhawatiran saya terlalu berlebihan… tetapi setidaknya kita bisa mengantisipasi sehingga bisa beraksi dan memajukan industri boardgame lokal. Semoga 2 tahun ke depan Kita semua bisa menikmati aneka boardgame Indonesia di rak-rak toko buku ^_^

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com