Industri Kreatif & Retail Store memiliki hubungan yang sangat erat karena keberadaan mereka di kota besar hingga pedesaan khususnya di Jawa sangatlah besar. Hal ini akan memudahkan industri kreatif untuk memasarkan produk mereka melalui retail store semacam Alfamart dan Indomaret.

Materi peranan retail store dan industri kreatif ini dijelaskan oleh Senseii Noriyuki Nobayashi (Direktur LEGS Company Ltd.). Beliau menjelaskan bahwa persaingan retail store di Jepang sangatlah ketat, para pemain besarnya adalah Seven-Eleven, Lawson, Family Mart, dkk.

Industri Kreatif & Retail Store

Industri Kreatif & Retail Store

Awalnya masyarakat Jepang sangat tidak peduli dengan nama retail store atau convenient store (kombini store) saat akan berbelanja. Hal ini memacu LAWSON untuk menggunakan strategi bisnis yang bertujuan untuk membuat konsumen memilih LAWSON untuk berbelanja.

LAWSON melihat potensi industri kreatif khususnya licensing IP (Intellectual Property) untuk menciptakan “irasionalitas” dalam keputusan membeli. Salah satu contohnya adalah dengan memanfaatkan Evangelion dimana LAWSON bekerja sama dengan SCHICK yaitu produsen pembuat alat cukur yang dijual dengan sistem bundling. Ada 3 seri alat cukur, dimana masing-masing alat cukur mendapatkan mainan eksklusive karakter Evangelion. Produk SCHICK+Evangelion ini awalnya HANYA bisa diperoleh di LAWSON. Strategi ini ternyata sangat berhasil karena saat ini SCHICK telah menggeser GILLETTE sebagai produsen alat cukur terbesar di Jepang. Saya sendiri pada tahun 2012 beli alat cukur SCHICK di Akihabara hanya untuk mendapatkan karakter robot Evangelion. Dan hingga saat ini saya tetap menyimpan alat cukur tersebut.

Industri Kreatif & Retail Store

Industri Kreatif & Retail Store

Strategi kolaborasi antara IP creator – Manufaktur – Retail Store ternyata sangat efektif mengubah perilaku belanja masyarakat Jepang di retail store. Keberhasilan ini membuat LAWSON memiliki positioning pasar yang jelas di Jepang. Strategi selanjutnya adalah dengan menggunakan RILAKKUMA untuk menggaet ibu rumah tangga. LAWSON menggunakan sistem koleksi sticker untuk kelipatan belanja tertentu guna mendapatkan piring dan gelas set bergambar RILAKKUMA. Strategi ini berhasil hingga kehabisan stok sebelum promo berakhir.

Rilakkuma dan Lawson

Berdasarkan pengalaman inilah LAWSON ingin memasarkan IP Jepang yang sudah tenar yaitu Doraemon di Indonesia. Pada tahun 2012, LAWSON menggandeng Alfamart untuk memasarkan produk mainan Doraemon dan Hello Kitty. Strategi ini ternyata cukup ampuh, karena kedua IP ini memang telah dikenal masyarakat Indonesia dalam waktu yang lama.

Hello Kitty + Doraemon = Alfamart

Lalu mengapa LAWSON tidak membuat IP sendiri? Nobayashi menjelaskan bahwa hal itu pernah dilakukan oleh LAWSON tetapi hampir seluruhnya gagal. Maka dari itu LAWSON lebih fokus ke retail store dan berkolaborasi dengan para IP kreator untuk membangun industri kreatif Jepang. Pelaku Industri Kreatif & Retail Store Indonesia harus bersama-sama memikirkan “Nation Branding” agar tidak makin tergilas oleh produk asing.

BACA ARTIKEL: http://adhicipta.com/desain-karakter-game-animasi/

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com