Liburan di Rumah dengan Boardgame

Liburan di Rumah dengan Boardgame adalah hal positif bagi anak-anak dan orang tua untuk mengakrabkan kembali keluarga.

Bagi saya dan keluarga board game telah menjadi bagian dari kebiasaan positif yang kami lakukan dikala senggang. Setiap bepergian saya selalu membawa board game yang mudah dibawa seperti Waroong Wars dan Aquarius. Sehingga saat kami berada di food court mall kami lebih asik bermain board game daripada sibuk dengan gadget masing-masing.

Liburan di Rumah dengan Boardgame akan terasa menyenangkan dan berkualitas dibandingkan “mempercayakan” gadget atau game console ke anak-anak. Ada beberapa hal positif dari board game yang saya rasakan bersama keluarga.

  • Anak belajar Berkomunikasi. Anak kedua saya Aura saat ini berusia 7 tahun dan kemampuan verbalnya masih berkembang. Boardgame pertama yang ia kenal adalah Waroong Wars, sebuah board game tentang pemilik warung yang harus belanja dan memasak untuk mendapatkan pelangga. Dia belajar begitu cepat dari penjelasan singkat yang saya berikan. Dan saat bermain dia selalu aktif berkomunikasi untuk mengingatkan giliran bermain dan beberapa aturan permainan yang tepat. Selain itu, Aura menjadi proaktif berkomunikasi dengan om serta tantenya untuk mengajak bermain Waroong Wars dan menjelaskan cara bermain yang benar.
  • Anak belajar Matematika. Rata-rata permainan boardgame menggunakan perhitungan dalam menilai hasil akhir dari victory point yang dicapai pada akhir permainan. Anak-anak akan menjadi sangat teliti dalam menghitung victory point yang ia raih agar menjadi pemenang. Dalam board game Pagelaran Yogyakarta, para pemain berperan sebagai seorang manajer pertunjukan. Sebagai manajer harus mampu mengkalkulasi selera pertunjukan dari setiap pengunjung. Selain itu anak-anak akan belajar menghitung uang yang ia miliki untuk bisa menyelenggarakan sebuah pementasan. Bagi saya hal ini merupakan pembelajaran matematika yang aplikatif dan memberikan pengalaman nyata manfaat berhitung dalam simulasi manajer showbiz.
  • Anak belajar Sejarah. Pelajaran sejarah adalah pelajaran yang cenderung menghafal dan cepat dilupakan. Padahal yang diharapkan belajar sejarah bukan sekadar menghafal tanggal, peristiwa, tokoh, hingga lokasi. Pada umumnya orang tua atau guru akan mengajak anak-anak mengunjungi lokasi bersejarah agar mereka mendapatkan pengalaman langsung. Namun, hal ini membutuhkan banyak biaya, apalagi di musim liburan, lokasi-lokasi bersejarah seperti museum 10 november surabaya dll. ramai dipadati pengunjung. Salah satu cara efektif yang memberikan pengalaman langsung bagi anak adalah dengan bermain boardgame Mahardika. Boardgame ini mengajak anak-anak berperan sebagai tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno, Jenderal Sudirman, hingga Ki Hadjar Dewantara. Anak-anak juga belajar mengambil keputusan jika berhadapan dengan situasi bersejarah pada masa pra dan pasca kemerdekaan RI.
  • Anak Belajar Membuat Keputusan. Dengan bermain bermain board game, anak-anak akan dihadapkan pada situasi tertentu dan harus segera mengambil keputusan. Saat saya bermain boardgame strategi perang RISK bersama putra saya Dhilan (10 tahun), ia belajar untuk mengambil keputusan dalam melakukan penyerangan di benua yang ingin ia kuasai. Ia juga belajar menerima konsekuensi saat salah mengambil keputusan dari strategi yang ia pilih.
  • Anak Belajar Menjadi Jujur. Bermain boardgame berbeda dengan bermain game digital, dimana semua rule dan scoring diatur secara otomatis oleh program. Bermian boardgame mengajak anak-anak untuk jujur dari setiap tindakan atau aksi yang ia pilih. Seperti kewajiban membayar atau mengambil uang/token dll.
  • Anak Belajar Menerima Kemenangan Orang Lain dan Menerima Kekalahan. Boardgame melatih mental anak-anak untuk menjadi pribadi yang sportif. Pada mulanya anak pertama saya Dhilan, sulit menerima kekalahan saat bermain boardgame RISK. Namun setelah beberapa kali bermain, ia menjadi pribadi yang cukup “matang” dimana ia tetap berusaha menyelesaikan permainan meskipun secara perhitungan dia sudah kalah.
  • Orang Tua dan Anak Belajar Saling Memahami. Terlepas dari berbagai tema board game yang ada. Saya sebagai ayah, belajar banyak memahami proses perkembangan 2 buah hati saya yaitu Dhilan dan Aura lewat board game. Kadang saat Aura kalah ia tampak sedih, saat itu mamanya berusaha menghibur dan menguatkan agar tetap bersemangat. Begitu pula sebaliknya, kadang saya “berpura-pura” sedih saat akan kalah, ternyata anak-anak cukup berempati. Namun trik ini kadang tidak efektif saat mereka tahu kalo saya cuma pura-pura. Dan di situlah kami tertawa bersama menikmati setiap permainan boardgame yang kami lakukan.

Semoga artikel Liburan di Rumah dengan Boardgame bermanfaat bagi Anda yang telah berkeluarga untuk memberikan “value” bagi masa depan anak-anak lewat cara yang positif.

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com