model bisnis konten animasi jepang

Model Bisnis Konten Animasi Jepang memang cukup unik.

Selama mengikuti pendidikan di Jepang, saya mengamati ada 6 jenis model bisnis konten animasi berdasarkan produk awalnya atau bisa dikatakan animasi adalah produk turunan dari produk kreatif “induknya”. Yaitu:

Pokemon Game

1. Game -> animasi
Di Jepang banyak animasi yang dikembangkan dari produk game. Salah satu contohnya adalah Pokemon. Pokemon awalnya (1996) adalah sebuah game dengan platform Game Boy. Kesuksesan game Pokemon diikuti pula dengan beberapa judul game sejenis dan trading card game. Setelah sukses di game maka hadir serial animasi hingga versi layar lebar dari Pokemon.

Model bisnis konten animasi

Attack on titan

2. Manga -> animasi
Sebagian besar anime di Jepang berasal dari manga (komik) yang sangat sukses penjualannya. Diantaranya adalah Astro Boy, Dragon Ball, One Piece, hingga Attack on Titan. Kesuksesan penjualan manga adalah bentuk validasi pasar untuk dibuat versi animasinya.

Beyblade

3. Toys -> animasi
Pasti pernah nonton Dash! Yonkuro yaitu sebuah anime yang menceritakan seorang anak laki yang hobi bermain mainan mobil 4WD (Tamiya). Atau anime Beyblade (爆転シュートベイブレード Bakuten Shūto Beiburēdo) yang menceritakan kompetisi permainan “gasing” moderen. Beberapa anime memang digunakan produsen mainan untuk “promosi” melalui cerita termasuk cara bermainnya.

School Idol Project

4. Music -> animasi
Para otaku pasti mengenal Haruhi Suzumiya ^_^ Sebenarnya anime ini memang dirancang untuk penjualan musiknya seperti CD, DVD, hingga Live Performance. Ada juga anime “Love Live” yang bercerita sekelompok gadis yang berjuang menjadi idol group. Saat ini juga muncul tren dimana para seiyuu (voice actor) juga sebagai penyanyi lagu di dalam sebuah serial anime.

5. 100% animasi
Animasi yang bukan produk turunan memang saat ini tidak banyak jumlahnya dibanding animasi turunan dari 4 kategori sebelumnya. Diantaranya animasi-animasi panjang dari Studio Ghibli.

Kategorisasi animasi ini pun masih akan terus berkembang sesuai perubahan perilaku dari konsumen. Sehingga saat ini dapat dikatakan bahwa animasi lebih banyak berfungsi sebagai “media promosi” atau semacam iklan untuk produk turunan seperti MD (merchandising). Karakter dalam animasi harus dirancang sedemikian rupa untuk bisa dikembangkan ke berbagai MD seperti baju, tas, stationary, gelas, dll.

Jika animasi hanya dipandang sebagai produk akhir maka investasi produksinya sangatlah mahal. Namun jika animasi dipandang sebagai media promosi, maka investasi tersebut memiliki potensi return atau pengembalian investasi yang lebih besar.

Sehingga butuh perencanaan yang sangat matang untuk produk turunan akhir yang akan dihasilkan dari model bisnis konten animasi yang akan dibuat.

ARTIKEL TERKAIT

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com