Produk Kreatif

PRODUK KREATIF

“Baca komikku ya nih linknya”

“Jangan lupa tonton animasi lokal karya gw jam …. di channel….”

“Gan, gw newbie bikin game nih… tolong dicoba ya”

“Jangan lupa beli kaosnya ya… murah banget loh”

Kita cukup sering baca status seperti di atas di social media seperti facebook, twitter, dll. bahkan ada yg sekedar sharing link tapi tidak jelas maksudnya.  Tentu tujuan dari para pelaku industri kreatif ini adalah memanfaatkan sosial media sebagai sarana pemasaran produk kreatif yang murah meriah.

Tidak ada yang salah dengan cara ini, namum seringkali dalam memasarkannya tidak efektif dan tidak menarik bagi calon customernya. Bisa dibayangkan jika ada puluhan atau ratusan pelaku industri kreatif melakukan cara yang sama seperti di atas.

Proses kreatif tidak berhenti sampai produk itu selesai. Proses kreatif juga harus sampai pada tahap marketingnya. Berbeda dengan perusahaan skala usaha besar yang memiliki tim dan departemen marketing sendiri, para startup yang serba minimalis seringkali harus melakukan marketing sendiri dalam memasarkan produk kreatifnya.

Ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan marketing produk industri kreatif melalui social media:

  1. Pahami dan kenali produk kreatif Anda. Jika Anda berkarya untuk memuaskan diri sendiri maka cukup sulit untuk memasarkan produk Anda karena produk tidak dibangun berdasarkan needs dari konsumen. Produk kreatif sangatlah dinamik dan unik pasarnya maka ada baiknya melakukan riset kecil-kecilan sebelum membuat produk kreatif. Ingat “Don’t waste your time because you only live once (YOLO)”
  2. Pahami dan kenali calon customer produk kreatif Anda. Rancanglah psikografi dari target calon konsumen produk Anda, misal:  produk kita adalah komik petualangan di dunia sihir maka psikografinya adalah penggemar komik dgn genre fantasi, suka petualangan, suka cerita terkait sihir, penggemar game dll. Social media seperti facebook sangat membantu dalam mencari “interest” dari jutaan penggunanya, maka manfaatkanlah fasilitas ini (lihat gambar chart di atas).
  3. Pasarkan Produk pada Komunitas yang Tepat. Seringkali para pelaku produk kreatif memasarkan produknya di komunitas para kreator bukan pada end user sehingga cenderung salah sasaran dan kurang berarti. Jika produk kita adalah produk animasi untuk anak-anak maka sebarkanlah ke komunitas tempat para ibu-ibu berkumpul ^_^
  4. Tawarkan Benefit bukan Fitur. Kalo baca contoh-contoh status di atas maka kesamaan dari semua status adalah lebih menawarkan fitur bukan benefit. Dalam benak pembaca status Anda yang akan dipikirkan adalah emang apa gunanya saya kalo “like” dan menikmati produk kreatif Anda??? Jangan buang waktu saya deh... Berbeda jika status itu diubah menjadi: “Jika anak Anda kesulitan dalam belajar membaca maka film animasi “ABC” akan menjadi solusi bagi para ibu yang ekstra sibuk. Jangan lupa ya tonton animasinya di….”
  5. Evaluasi setiap “kampanye” marketing produk kreatif! Seringkali kita melakukan hal yang salah berulang-ulang. Hal ini terjadi karena kita tidak melakukan evaluasi dari “update status” atau twit yang kita buat. Respon dari setiap aktivitas dapat kita cek dari jumlah “like”, “re-tweet” atau kalo kita punya fan page kita bisa melihat “insight” viral dan siapa saja yang merespon. Dengan demikian kita bisa melakukan evaluasi dari kampanye produk kreatif kita.

Semoga 5 hal ini bisa membuat kita makin kreatif dalam memasarkan produk industri kreatif kita ^_^

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com