Rendahnya Minat Belajar Sejarah di Sekolah merupakan isu yang cukup besar di beberapa sekolah.

Hal ini menarik minat saya untuk melakukan survei kepada 33 orang guru sejarah pada tgl. 22 s.d. 28 Maret 2017. Guru-guru ini tersebar dari beberapa provinsi yaitu Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Selatan. Tiga puluh tiga persen adalah guru-guru sekolah dasar, dan sisanya 67% adalah guru-guru SMP.

Jumlah peserta didik di dalam kelas di peringkat pertama mencapai 48,5% dengan rentang jumlah antara 21 s.d. 30 orang. Sedangkan peringkat kedua peserta didik dengan jumlah rentang 31 s.d. 40 orang mencapai 33,3%. Semakin banyak jumlah siswa maka tantangan mengajar bagi para guru menjadi lebih besar.

Metode pengajaran sejarah yang dilakukan para guru pada peringkat pertama adalah diskusi (30 responden), peringkat kedua adalah ceramah (26 responden), dan menonton film sejarah (23 responden). Hal ini menunjukkan bahwa sudah ada indikasi para guru menggunakan metode pengajaran yang meningkatkan minat para siswa diantaranya adalah melalui menonton film, roleplay, dan game.

Kendala para guru saat mengajarkan pelajaran sejarah di dalam kelas pada peringkat pertama adalah persepsi bahwa pelajaran sejarah adalah sekadar pelajaran hafalan (72,7%), peringkat kedua adalah sulit menjelaskan sejarah secara kongkrit karena pelajaran ini dianggap “abstrak” oleh sebagian siswa (57,6%), dan pada peringkat ketiga adalah Materi ajar sejarah dianggap terlalu padat dan materinya berubah-ubah (51,5%).

Kendala di atas berbanding lurus terhadap prestasi belajar sejarah oleh para guru sejarah di mana hasilnya adalah nilai rata-rata siswa pada pelajaran sejarah 60,6% rendah dan 6,1% sangat rendah. Maka dari itu kebutuhan inovasi pembelajaran sejarah untuk meningkatkan minat dan berdampak pada prestasi belajar pada pelajaran sejarah dibutuhkan para guru. Hal ini terbukti pada hasil survei di mana 90,9% guru menyatakan inovasi pembelajaran pada mata pelajaran sejarah sangat dibutuhkan.

Linimasa Cardgame – Salah Satu Solusi Inovasi Pembelajaran Sejarah

Pada akhir tahun 2015 saya memulai mengembangkan pembelajaran sejarah yaitu Linimasa Cardgame. Hal ini dilatarbelakangi nilai pelajaran sejarah anak saya kurang bagus. Sehingga ia harus melakukan remidi.

Setelah saya telusuri penyebab utama rendahnya nilai sejarah putra saya adalah gaya belajarnya yang cenderung visual. Sejak saat itu saya mencari referensi board game dengan inovasi pembelajaran sejarah. Sehingga muncullah Linimasa Cardgame.

Linimasa cardgame terus saya kembangkan tidak hanya dalam boardgame tetapi juga dilengkapi dengan aplikasi Kuis untuk mengukur dampak permainan ke pemahaman para pemain. Selain itu dalam aplikasi ini nantinya dilengkapi Augmented Reality atau AR sehingga bisa menghadirkan tokoh-tokoh sejarah ke dalam ruang kelas. Sehingga minat belajar siswa akan meningkat dan diikuti prestasi belajarnya.

Pada tahun 2017 telah dilakukan Penelitian Tindakan Kelas menggunakan Linimasa Cardgame oleh seorang pendidik yaitu Laksmi Puspitowardhani untuk tesis di Magister Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Hasilnya adalah terdapat peningkatan presetasi belajar para siswa yang menggunakan Linimasa Cardgame dibanding kelas dengan metode pengajaran ceramah.

Bagi para guru pengajar pelajaran sejarah yang berminat untuk mendapatkan Linimasa Cardgame (Harga Rp85.000,00) dan mendapatkan diskon 5% saat nanti melakukan pre-order, maka segera untuk daftarkan diri ke link: http://bit.ly/prelaunchinglinimasacardgame

Share:
Written by Adhicipta R. Wirawan
Founder & CEO Mechanimotion. Contact me: kontak@adhicipta.com